Waspadai Penipuan Perekrut BUMN dan Tech Titan di LinkedIn yang Mengaku Resmi

Kelompok peretas yang dikenal dengan nama Mirage Kitten kembali melancarkan kampanye serangan yang terfokus dengan memanfaatkan lowongan pekerjaan palsu yang diposting di LinkedIn.
Dalam aksinya, mereka beroperasi dengan menyamar sebagai perekrut dari perusahaan-perusahaan teknologi besar dan menargetkan para insinyur perangkat lunak, khususnya yang berkecimpung di sektor penerbangan dan teknologi finansial (fintech).
Aktivitas penipuan ini terdeteksi di beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika, seperti Mesir, Ethiopia, dan Afghanistan. Selain itu, serangan serupa juga telah ditemukan di negara-negara Eropa seperti Jerman, Turki, Israel, India, dan Irlandia.
Menurut para peneliti dalam bidang keamanan siber, kampanye terbaru ini memanfaatkan spyware yang bersifat lintas platform, dibangun menggunakan Node.js dan JavaScript. Penemuan ini mencuat setelah sebelumnya teridentifikasi backdoor untuk Windows yang terkait dengan kelompok yang sama pada bulan Juli yang lalu.
Serangan tersebut berawal dari tawaran pekerjaan yang tampaknya sah.
Modus operandi penyerang dimulai dengan teknik rekayasa sosial. Mereka menciptakan profil di LinkedIn dan berpura-pura menjadi spesialis rekrutmen dari perusahaan teknologi terkemuka. Dengan cara ini, mereka menghubungi pengembang perangkat lunak yang bekerja di industri penerbangan dan fintech.
Para korban kemudian ditawari untuk mengikuti proses seleksi yang melibatkan tes teknis. Untuk melaksanakan tes tersebut, mereka diminta untuk mengunduh sebuah tantangan pemrograman dari layanan penyimpanan cloud milik Amazon, yang pada dasarnya merupakan layanan yang sah.
Pelaku juga memberikan waktu yang sangat terbatas, berkisar antara satu hingga tiga jam, untuk menyelesaikan tes tersebut. Dalam prosesnya, para korban bahkan diminta untuk tidak menggunakan alat bantu pemrograman berbasis AI.
Larangan tersebut diduga merupakan bagian dari taktik mereka. Pasalnya, alat bantu pemrograman berbasis AI memiliki kemampuan untuk mendeteksi kode berbahaya yang sengaja disisipkan dalam paket tantangan pemrograman.
Setelah paket tersebut diunduh dan dijalankan di perangkat korban, proses infeksi pun dimulai. Sementara korban berkonsentrasi mengerjakan tugas pemrograman yang terlihat wajar, malware beroperasi di latar belakang dan mulai menginstal dirinya sendiri pada perangkat yang digunakan.
Mirage Kitten juga telah mengalami perubahan dalam cara mereka melancarkan serangan. Sebelumnya, mereka banyak menggunakan malware yang dikembangkan dengan bahasa pemrograman seperti C, C++, atau Go, dengan fokus pada perangkat berbasis Windows.
Kini, mereka beralih ke penggunaan Node.js dan JavaScript. Perubahan tersebut memungkinkan mereka untuk menggunakan satu basis kode yang dapat menyerang perangkat yang menjalankan sistem operasi Windows, macOS, maupun Linux.
➡️ Baca Juga: Kronologi Meninggalnya Hayden Panettiere di Usia 36 Tahun, Hanya 5 Hari Jelang Ulang Tahun
➡️ Baca Juga: Wakapolri Arahkan Pospam Nasional untuk Tingkatkan Respons Cepat Polda Jabar




