Analisis Dampak Konflik AS-Israel-Iran terhadap Harga Minyak Dunia dan Potensi Penutupan Selat Hormuz

Harga minyak dunia mengalami lonjakan yang signifikan setelah serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik ini dipandang sebagai peluang positif bagi sektor energi, khususnya terkait dengan pergerakan harga minyak di pasar global.
Minyak mentah Brent tercatat mengalami kenaikan hampir 10 persen, mencapai level US$80 per barel, atau sekitar Rp 1,34 juta (dengan asumsi kurs Rp 16.830 per dolar AS) dalam perdagangan di pasar over-the-counter pada Minggu, 1 Maret 2026. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran di pasar mengenai potensi gangguan pasokan energi global, khususnya dari Iran yang dikenal sebagai salah satu produsen minyak utama dunia.
Namun, pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, harga minyak mengalami sedikit penurunan. Harga minyak mentah Brent masih mencatatkan penguatan lebih dari 4 persen, diperdagangkan di angka US$76,16 per barel atau sekitar Rp 1,28 juta.
Di sisi lain, minyak mentah AS diperdagangkan pada level US$69,67 per barel, atau sekitar Rp 1,17 juta setelah mencatat kenaikan hampir 4 persen, sebagaimana dilaporkan oleh BBC. Nilai ini merupakan titik tertinggi baru sejak bulan Juli, setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi sebesar US$73 atau sekitar Rp 1,22 juta per barel pada Jumat, 28 Februari 2026.
Ajay Parmar, Direktur Energi dan Pemurnian di ICIS, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak tidak hanya disebabkan oleh serangan militer. Ia menyoroti potensi gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi krusial bagi pasokan energi global.
“Walaupun serangan militer turut berkontribusi terhadap kenaikan harga minyak, yang menjadi faktor utama adalah kemungkinan penutupan Selat Hormuz,” ungkap Parmar dalam pernyataannya yang dikutip dari ChannelNewsAsia pada Senin, 2 Maret 2026.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menjadi penghubung bagi lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia. Akibat sikap tegas pemerintah Iran yang memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi jalur tersebut, banyak pemilik tanker, perusahaan minyak, dan perusahaan perdagangan yang memutuskan untuk menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui selat ini.
Menurut Ajay Parmar, jika gangguan ini berlanjut, harga minyak dunia dapat naik lebih jauh. Ia memperkirakan bahwa harga minyak bisa meningkat hingga US$20 per barel dari harga saat ini.
“Kami memperkirakan bahwa harga akan dibuka jauh lebih mendekati angka US$100 per barel, dan bahkan mungkin melebihi level tersebut jika penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam waktu yang lama,” tambah Ajay Parmar.
➡️ Baca Juga: Sekjen ASEAN Hadiri Pertemuan Pemimpin ASEAN dan Perwakilan ASEAN Inter
➡️ Baca Juga: Program Pengembangan Sumber Daya Alam Indonesia Berbasis Teknologi
