Meta Batasi Remaja di Facebook dan Instagram, Namun Ancaman Data Pribadi Mengintai

Meta telah menjalin kesepakatan dengan pemerintah negara bagian di Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan batasan waktu otomatis dan jam malam pada akun remaja di platform Instagram dan Facebook. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai keamanan dan kesehatan mental pengguna muda.
Namun, pelaksanaan kebijakan ini masih menuai sejumlah pertanyaan, terutama terkait dengan metode yang digunakan untuk memverifikasi usia pengguna serta identitas orangtua mereka. Seperti dilaporkan oleh Gulfnews, tantangan ini muncul karena belum ada sistem yang sepenuhnya dapat diandalkan untuk tujuan tersebut.
Kesepakatan yang mengakhiri persidangan federal di Oakland, California, pada Rabu, 26 Agustus itu memberikan waktu satu tahun bagi Meta untuk mengidentifikasi pengguna yang berusia antara 13 hingga 17 tahun. Akun-akun yang teridentifikasi sebagai milik remaja akan secara otomatis dikenakan batasan, dan hanya orangtua mereka yang memiliki kemampuan untuk mengatur pengaturan tersebut.
Untuk menerapkan sistem ini, Meta perlu memperkirakan usia semua penggunanya, termasuk yang berusia dewasa. Metode yang bisa diterapkan mencakup verifikasi identitas, permintaan swafoto (selfie), atau analisis perilaku pengguna. Jika sebuah akun tidak terverifikasi dalam waktu 14 hari, akun tersebut akan dikenakan pembatasan yang sama dengan akun remaja.
Namun, masalah muncul karena metode yang sama telah terbukti rentan untuk disiasati. Di Australia, misalnya, meski ada larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, tingkat penggunaan kembali mendekati angka sebelum larangan tersebut, karena remaja menggunakan VPN untuk menyembunyikan lokasi dan identitas mereka.
Kesepakatan tersebut juga tidak mencantumkan mekanisme yang kuat untuk memastikan bahwa pengawas akun benar-benar adalah orangtua atau wali yang sah. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dari jam malam dan pembatasan waktu yang diterapkan.
Jasmine Enberg, seorang pakar media sosial, berpendapat bahwa remaja kemungkinan besar akan mencari cara untuk menghindari aturan tersebut, sementara para orangtua dapat dengan mudah mengabaikan sebagian dari pembatasan. “Kebijakan ini bisa jadi malah mengalihkan sebagian tanggung jawab perlindungan anak dari Meta kepada orangtua,” ujarnya.
Kelompok hak digital Electronic Frontier Foundation juga mengingatkan tentang potensi risiko privasi yang muncul. Apabila Meta menggunakan analisis perilaku untuk memperkirakan usia pengguna, maka perusahaan akan mengumpulkan lebih banyak data pribadi, yang dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengguna.
Sementara itu, metode pemeriksaan identitas juga memiliki risiko kebocoran data pribadi. Kasus-kasus kebocoran data yang pernah terjadi pada perusahaan verifikasi usia pihak ketiga menjadi sorotan. Beberapa negara telah mencoba pendekatan alternatif. Misalnya, Prancis menerapkan sistem verifikasi anonim melalui pihak ketiga, sedangkan Uni Eropa masih mengalami keterlambatan dalam penerapan regulasi terkait.
Di AS, Meta justru akan melakukan pemeriksaan identitas secara internal dan menyimpan data pribadi pengguna, sehingga perdebatan mengenai privasi dan efektivitas sistem ini masih jauh dari selesai. Dengan tantangan yang ada, pertanyaan tentang bagaimana Meta dapat melindungi data pengguna sambil menerapkan kebijakan ini tetap menjadi isu yang kompleks dan memerlukan perhatian serius.
➡️ Baca Juga: Terapi CAPD Sebagai Solusi Inovatif untuk Pasien Gagal Ginjal yang Membutuhkan Harapan Baru
➡️ Baca Juga: Panduan Efektif Memilih Bisnis Rumahan Sesuai dengan Minat dan Kemampuan Anda




