Wapres AS Peringatkan Iran akan Kerugian Jika Gagal Menjaga Kesepakatan Gencatan di Lebanon

Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, memberikan peringatan tegas kepada Iran, menegaskan bahwa merusak kesepakatan gencatan di Lebanon adalah tindakan yang sangat tidak bijaksana, terutama jika dilakukan sebagai respons terhadap serangan yang dilancarkan Israel.
Walaupun Pakistan berperan sebagai mediator dalam gencatan senjata yang telah diumumkan, dan menyatakan bahwa Lebanon menjadi bagian dari kesepakatan tersebut, Vance menyatakan kepada wartawan bahwa Washington tidak sepakat dengan anggapan bahwa Israel harus menghentikan serangan mereka terhadap negara itu.
“Jika Iran memilih untuk membiarkan negosiasi ini gagal di tengah tekanan berat yang mereka alami, hanya karena Lebanon – yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan mereka dan yang tidak pernah disebutkan oleh AS sebagai bagian dari gencatan senjata – itu sepenuhnya merupakan pilihan mereka. Kami menganggap itu sebagai tindakan yang sangat tidak bijaksana, namun keputusan ada di tangan mereka,” ujar Vance saat meninggalkan Hongaria, sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeerah pada 9 April 2026.
Sebelumnya, pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebarkan pernyataan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang mengumumkan adanya gencatan senjata, dan ia menyoroti penekanan pada Lebanon sebagai bagian dari pernyataan tersebut.
“Ketentuan dalam gencatan senjata antara Iran dan AS sangat jelas; AS harus memilih antara gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel. Tidak ada pilihan lain,” tulis Araghchi.
Meskipun demikian, Presiden AS, Donald Trump, bersama dengan pejabat Gedung Putih, menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Vance menganggap perbedaan pandangan yang muncul sebagai sebuah kesalahpahaman.
“Terdapat banyak negosiasi dan propaganda yang tidak tulus. Saya percaya ini semata-mata merupakan kesalahpahaman. Orang-orang Iran mungkin mengira bahwa gencatan senjata itu mencakup Lebanon, tetapi kenyataannya tidak demikian,” jelasnya.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai bagaimana kesalahpahaman ini bisa muncul dalam konteks negosiasi internasional yang krusial. Pejabat AS juga belum memberikan penjelasan mengenai alasan di balik penekanan Pakistan pada Lebanon sebagai bagian dari gencatan senjata.
Israel dikenal memiliki rekam jejak yang panjang dalam melanggar kesepakatan gencatan senjata, termasuk dengan Lebanon di bulan November 2024. Sejak saat itu, Israel telah melancarkan serangan hampir setiap hari ke Lebanon selama 15 bulan terakhir.
Baru-baru ini, pada hari Rabu, Israel melaksanakan salah satu serangan yang paling mematikan dan merusak, dengan puluhan serangan udara yang mengakibatkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 lainnya terluka.
➡️ Baca Juga: Nabilah O’Brien dan Zhendy Kusuma Sepakat Berdamai setelah Mediasi Polri
➡️ Baca Juga: Manfaat Meditasi Pagi dalam Meningkatkan Konsentrasi untuk Produktivitas Kerja




