Mengapa Asap Karhutla Tetap Pekat Meski Lahan Terbakar Hanya 570 Hektare? Penjelasan BNPB

Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti berbagai daerah di Indonesia, bahkan dampaknya dirasakan hingga ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, mengganggu aktivitas masyarakat di sana.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa luas lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas hanya tersisa sekitar 570 hektare.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab asap yang tetap pekat meskipun luas lahan yang terbakar menurun. BNPB menjelaskan bahwa ukuran lahan yang terbakar bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi volume asap dan jarak penyebarannya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menekankan bahwa karakteristik lahan menjadi elemen penting, terutama jika kebakaran terjadi di kawasan gambut.
“Pertama-tama, karakteristik lahan gambut dan kedalaman lapisan yang terbakar sangat berpengaruh. Kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran pada vegetasi biasa. Gambut adalah material organik yang dapat terbakar perlahan di bawah permukaan tanah, terutama saat kondisi sangat kering,” jelas Berton dalam keterangannya pada Selasa (13/10/26).
Menurut Berton, api yang menyala di lahan gambut dapat menjalar hingga ke lapisan tanah yang lebih dalam. Hal ini menyebabkan kebakaran tetap berlangsung meski api di permukaan tampak tidak besar.
Proses pembakaran yang terjadi di bawah permukaan tanah dapat menghasilkan asap dalam jumlah yang signifikan. Akibatnya, upaya pemadaman menjadi lebih menantang karena petugas tidak hanya perlu menyiram area permukaan lahan.
Selain karakteristik lahan gambut, durasi kebakaran juga berdampak pada jumlah asap yang dihasilkan. Kebakaran yang berlangsung selama beberapa hari bisa menghasilkan asap secara terus-menerus.
“Lahan gambut yang terus terbakar selama berhari-hari dapat menghasilkan asap yang tidak berhenti,” ungkap Berton.
Faktor lain yang berpengaruh adalah arah dan kecepatan angin. Pergerakan angin dapat membawa partikel asap ke daerah permukiman, perkotaan, bahkan ke wilayah yang cukup jauh dari lokasi kebakaran.
Dalam kondisi cuaca tertentu, asap dari wilayah Sumatra atau Kalimantan dapat melintas batas negara dan berpengaruh terhadap kualitas udara di negara tetangga.
“Dalam kondisi meteorologis tertentu, asap dari Sumatra atau Kalimantan dapat bergerak melintasi perbatasan negara, memengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapura,” tambahnya.
➡️ Baca Juga: Latihan Gym yang Efektif untuk Mempertahankan Konsistensi Aktivitas Fisik Jangka Panjang
➡️ Baca Juga: Panduan Cara Akses SIAKAD Dalwa Mudah & Cepat




