pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
vstory

Transformasi dari Old Luxury ke Neo Luxury: Peran Sustainability dalam Masa Depan Properti Bali

Bagus Sukmana, seorang praktisi komunikasi yang telah berkecimpung di bidang ini sejak tahun 2009, adalah pendiri Kitakata PR dan saat ini sedang menempuh Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi di UPN Veteran Jakarta.

Bali memiliki daya tarik yang luar biasa dalam pandangan dunia. Nama Bali seolah memiliki kekuatan tersendiri dalam imajinasi global, hingga banyak wisatawan asing yang menganggap Pulau Dewata sebagai negara independen, terpisah dari Indonesia.

Meski demikian, daya tarik Bali tidak hanya terletak pada kemampuannya menarik wisatawan. Dalam beberapa tahun terakhir, Bali mengalami perubahan mendasar dari sekadar tujuan wisata menjadi sebuah ekosistem ekonomi, gaya hidup, dan investasi yang melibatkan berbagai negara.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia di awal tahun 2020 telah mempercepat proses transformasi ini. Dengan semakin banyak pekerjaan yang tidak terikat pada lokasi fisik, Bali kini berfungsi sebagai tempat tinggal, ruang kerja, serta lokasi investasi, sekaligus membentuk identitas baru dalam gaya hidup.

Fenomena seperti digital nomad, pekerja jarak jauh, migran gaya hidup, dan investor internasional telah memperluas definisi tentang para pengunjung Bali serta tujuan kedatangan mereka.

Pada tahun 2025, Bali mencatatkan 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara, meningkat 9,72% dibandingkan tahun sebelumnya. Australia tetap menjadi sumber utama, menyumbang 23,44% dari total wisatawan yang datang ke pulau ini.

Selain itu, data dari Biro Pusat Statistik Provinsi Bali menunjukkan bahwa selama Semester 1 tahun 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 3.203.156.

Walaupun terjadi penurunan tipis sebesar 2,42% secara tahunan, tren bulanan yang mendekati pertengahan tahun 2026 menunjukkan pemulihan yang stabil, menunjukkan bahwa daya tarik internasional Bali tetap kuat dan tak tergoyahkan.

Angka-angka tersebut sangat krusial bagi industri pariwisata. Mobilitas manusia dalam skala besar ini menciptakan ekosistem permintaan baru terhadap berbagai sektor, mulai dari akomodasi, hunian, hospitality, wellness, hingga ruang kerja dan properti.

Dengan kata lain, tidak semua pengunjung hanya berperan sebagai wisatawan. Sebagian dari mereka bertransformasi menjadi penyewa jangka panjang, investor, pemilik rumah, pengusaha, atau bagian dari komunitas internasional yang memilih menetap di Bali.

Perubahan ini juga sejalan dengan perkembangan regulasi kepemilikan hunian bagi orang asing. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021, orang asing yang memenuhi syarat dokumen keimigrasian kini dapat memiliki rumah atau hunian di Bali.

    ➡️ Baca Juga: Semifinal Piala FA: Chelsea Melawan Leeds, Manchester City Hadapi Southampton

    ➡️ Baca Juga: Ruang Tenang untuk Meningkatkan Kesehatan Mental Anda Secara Efektif

    Back to top button