Pramono Lakukan Normalisasi Sungai Ciketing Pasca Longsor Sampah di Bantargebang

Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melaksanakan penanganan darurat setelah terjadi longsor besar yang disebabkan oleh timbunan sampah di zona 4A TPST Bantargebang, yang mengakibatkan lima orang kehilangan nyawa.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengakui bahwa potensi terjadinya longsor susulan sulit untuk diprediksi, terutama setelah hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sebelum insiden terjadi.
Pramono menjelaskan bahwa peristiwa longsor terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi dengan durasi yang cukup lama, yang menyebabkan tumpukan sampah menjadi jenuh air dan licin, sehingga akhirnya runtuh.
“Kalau saya bilang tidak ada potensi longsor susulan, itu sulit diprediksi. Namun, saat saya bersama Pak Firdaus, Pak Afan, dan Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Sumber Daya Air meninjau lokasi, kami melihat bahwa curah hujan kemarin sangat ekstrem,” ungkap Pramono dalam konferensi pers di Pendopo Balai Kota, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 9 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa intensitas hujan pada hari kejadian mencapai 264 milimeter per hari, yang tergolong sangat tinggi untuk wilayah Jakarta. Kondisi ini menyebabkan air meresap ke dalam timbunan sampah yang berakibat pada pergerakan material dan terjadinya longsor.
“Pada hari itu, curah hujan mencapai 264 mm per hari. Ini merupakan salah satu rekor curah hujan tertinggi di Jakarta. Hujan yang berkepanjangan menyebabkan air masuk ke dalam tumpukan sampah, yang mengakibatkan sliding atau licin, sehingga longsor terjadi,” jelasnya.
Sebagai langkah cepat untuk mengurangi dampak dari longsor dan mencegah gangguan bagi masyarakat di sekitar, Pemprov DKI Jakarta langsung memutuskan untuk melakukan normalisasi terhadap aliran Sungai Ciketing yang terhalang oleh material sampah akibat peristiwa tersebut.
“Untuk itu, saya sudah memutuskan untuk segera melakukan normalisasi, terutama pada Sungai Ciketing, agar aliran sungai bisa kembali normal secepatnya,” tambahnya.
Pramono menekankan bahwa sungai ini memiliki peranan penting bagi aktivitas masyarakat serta jalur operasional di sekitar TPST Bantargebang. Ketika aliran sungai terhalang oleh material longsor, akses jalan di area tersebut juga terpengaruh.
“Sungai ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi masyarakat di daerah itu. Ketika sungai tertutup, akses jalannya juga terhambat, dan hal itu terlihat jelas di lapangan. Oleh karena itu, normalisasi harus segera dilakukan,” tegasnya.
➡️ Baca Juga: Efek Obat Bius Korban Pemerkosaan Priguna: Masih Pusing
➡️ Baca Juga: Seismic Activity in Kolaka, Indonesia: 507 Quakes Reported




