
Pada tahun 2014, Google meluncurkan Android One, sebuah proyek ambisius untuk menghadirkan pengalaman Android murni pada smartphone murah di negara berkembang.
Dengan janji pembaruan sistem yang cepat dan performa ringan, Android One sempat menarik perhatian banyak pengguna. Salah satu contoh sukses adalah Xiaomi Mi A1, yang menjadi salah satu smartphone Android One paling populer.
Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas Android One meredup, dan hampir semua produsen mulai meninggalkan program ini.
Poin Kunci
- Android One diluncurkan untuk menghadirkan pengalaman Android murni pada smartphone terjangkau.
- Program ini menjanjikan pembaruan sistem cepat dan pengalaman pengguna yang bersih.
- Xiaomi Mi A1 menjadi salah satu smartphone Android One paling populer.
- Nokia (HMD Global) adalah pendukung utama program Android One.
- Android One ditinggalkan oleh hampir semua produsen smartphone.
Sejarah Singkat Android One: Visi Google untuk Smartphone Terjangkau
Pada 2014, Google memperkenalkan Android One untuk membersihkan lanskap Android yang berantakan. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman Android murni pada smartphone entry-level.
Peluncuran Android One pada 2014
Android One diluncurkan sebagai respon terhadap kondisi pasar smartphone budget yang kacau. Google berupaya menyediakan versi Android yang bersih dan bebas dari modifikasi berlebihan.
Tujuan Awal: Pengalaman Android Murni untuk Semua
Tujuan utama Android One adalah menghadirkan pengalaman Android yang autentik dan bebas dari bloatware. Dengan demikian, pengguna bisa menikmati sistem Android yang cepat dan stabil.
Evolusi Program dari 2014 hingga 2018
Dari 2014 hingga 2016, Android One berfokus pada smartphone entry-level. Kemudian, pada 2017, program ini berkembang dengan masuk ke pasar global dan segmen mid-range, dengan Xiaomi Mi A1 sebagai salah satu produk yang menandai titik balik kesuksesan Android One.
Periode 2017-2018 menjadi masa keemasan Android One dengan banyak produsen bergabung dan antusiasme konsumen yang tinggi.
Produsen Smartphone yang Pernah Mengadopsi Android One
Berbagai produsen smartphone pernah mengadopsi Android One, program yang digagas Google untuk memberikan pengalaman Android murni kepada pengguna. Beberapa di antaranya adalah produsen-produsen ternama yang kemudian meninggalkan program ini.
Xiaomi dengan Seri Mi A
Xiaomi meluncurkan salah satu perangkat Android One global pertama, Xiaomi Mi A1. Perangkat ini menampilkan Android mirip stock daripada antarmuka MIUI yang biasa digunakan Xiaomi. Ini menandai langkah awal Xiaomi dalam program Android One.
HMD Global dengan Smartphone Nokia
HMD Global, perusahaan yang memegang lisensi untuk memproduksi smartphone Nokia, juga merilis beberapa perangkat Android One. Mereka berusaha memberikan pengalaman Android yang lebih murni kepada pengguna Nokia.
Motorola dan Produsen Lainnya
Motorola meluncurkan Moto X4 sebagai perangkat Android One pertama di Amerika Serikat. Selain Motorola, produsen lain seperti Sharp, LG, Infinix, dan Kyocera juga pernah merilis smartphone Android One. Berikut adalah tabel yang merangkum beberapa produsen yang pernah bergabung dalam program Android One:
| Produsen | Perangkat Android One |
|---|---|
| Xiaomi | Mi A1, Mi A2 |
| HMD Global (Nokia) | Nokia 8.1, Nokia 9 |
| Motorola | Moto X4 |
| Sharp | Sharp 507SH |
| LG | LG X5 |
Sebagian besar produsen ini hanya merilis satu atau dua model Android One sebelum akhirnya keluar dari program. Kyocera menjadi produsen yang merilis smartphone Android One terakhir, Android One S10, yang diluncurkan pada 2023 khusus untuk pasar Jepang.
Alasan Brand Tinggalkan Android One: Kendala Utama
Banyak brand yang pernah bergabung dengan program Android One akhirnya meninggalkannya karena beberapa kendala utama. Meskipun program ini menawarkan pengalaman Android murni dengan pembaruan sistem yang cepat, beberapa tantangan signifikan membuat para produsen beralih ke pilihan lain.
Pembatasan Ketat dari Google
Menurut Mishaal Rahman, Senior Technical Writer di Esper dan mantan ahli XDA, Google memberlakukan kontrol ketat atas desain industri perangkat Android One. Pembatasan ini tidak hanya berlaku pada desain hardware, tetapi juga pada aplikasi pra-instal. Google hanya mengizinkan total lima aplikasi pra-instal, termasuk yang diwajibkan oleh operator, dan semua aplikasi ini harus diverifikasi oleh Google.
Kurangnya Ruang untuk Diferensiasi Produk
Dengan pembatasan ketat dari Google, produsen memiliki ruang yang terbatas untuk melakukan diferensiasi produk. Hal ini membuat mereka sulit untuk menonjolkan keunikan perangkat mereka di pasar yang kompetitif. Menurut analisis yang dilakukan, produsen mencari cara untuk membedakan produk mereka melalui fitur dan aplikasi tambahan.
Tantangan dalam Pembaruan Sistem
Beberapa produsen mengalami kesulitan dalam memenuhi janji pembaruan cepat yang ditawarkan oleh Android One. Proses koordinasi antara Google, produsen, dan operator seringkali menciptakan bottleneck yang memperlambat pembaruan. Beberapa perangkat Android One bahkan mengalami masalah serius seperti brick saat menerima pembaruan sistem.
Persaingan Ketat di Pasar Smartphone Entry-Level

Meningkatnya permintaan akan smartphone entry-level telah memicu persaingan yang ketat di antara produsen. Pasar smartphone murah saat ini dipenuhi oleh berbagai merek yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga rendah, membuat Android One tertinggal dalam hal fitur tambahan.
Produsen Cina dengan Spesifikasi Tinggi dan Harga Rendah
Produsen seperti Xiaomi, TECNO, dan Infinix telah berhasil menghadirkan perangkat murah dengan spesifikasi yang sulit disaingi. Mereka menawarkan alternatif yang menarik bagi konsumen yang mencari smartphone dengan harga terjangkau namun memiliki kemampuan yang memadai.
Preferensi Konsumen terhadap Fitur Tambahan
Konsumen kini lebih menghargai fitur tambahan dan UI kustom yang ditawarkan oleh produsen. Samsung dengan One UI, Xiaomi dengan MIUI, dan OPPO dengan ColorOS telah berhasil menciptakan pengalaman pengguna yang kaya fitur namun tetap efisien.
Pergeseran Fokus ke Pengalaman Pengguna yang Kaya
Produsen mulai berinvestasi besar dalam tim UX untuk menciptakan interface yang intuitif dan fitur eksklusif. Android One, dengan pendekatan minimalisnya, menjadi kurang menarik di pasar yang semakin menghargai ekosistem software yang kaya.
| Produsen | UI Kustom | Fitur Tambahan |
|---|---|---|
| Samsung | One UI | Bixby, Edge Panel |
| Xiaomi | MIUI | Mi Drop, Second Space |
| OPPO | ColorOS | Game Space, Smart Sidebar |
Dengan demikian, Android One menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan relevansinya di pasar smartphone entry-level yang kompetitif.
Strategi Pemasaran yang Kurang Maksimal
Strategi pemasaran yang kurang maksimal menjadi salah satu faktor utama mengapa Android One gagal menarik perhatian konsumen secara luas. Meskipun awalnya mendapat perhatian, program ini lambat laun kehilangan momentum.
Minimnya Promosi dari Google Setelah Tahun-Tahun Awal
Google tidak melakukan promosi besar-besaran untuk Android One setelah tahun-tahun awal peluncurannya. Program ini seolah tenggelam di antara kampanye produk lain yang lebih populer seperti Pixel dan Android Go.
Kurangnya Keuntungan Branding bagi Produsen
Produsen yang mengadopsi Android One merasa bahwa program ini tidak memberikan keuntungan branding yang signifikan. Mereka lebih tertarik pada strategi pemasaran yang dapat meningkatkan visibilitas produk mereka.
Kebingungan Konsumen antara Android One dan Android Go
Peluncuran Android Go pada 2017 menciptakan kebingungan di pasar tentang perbedaan antara Android One dan Android Go. Banyak pengguna salah mengira Android Go sebagai pengganti Android One, padahal keduanya ditargetkan untuk segmen pasar yang berbeda.
| Program | Tujuan | Fitur Utama |
|---|---|---|
| Android One | Pengalaman Android murni | Pembaruan sistem yang cepat |
| Android Go | Perangkat entry-level dengan kinerja optimal | Aplikasi yang dioptimalkan untuk perangkat low-end |
Dengan memahami perbedaan antara kedua program ini, diharapkan produsen dapat lebih efektif dalam memasarkan produk Android One mereka.
Perubahan Fokus Google dalam Pengembangan Android

Perubahan fokus Google dalam pengembangan Android telah membawa dampak signifikan pada program Android One. Dengan berjalannya waktu, Google lebih memprioritaskan pengembangan Android untuk perangkat yang lebih premium.
Prioritas pada Lini Pixel yang Lebih Premium
Google juga memperkenalkan lini Pixel sendiri untuk ponsel budget, dimulai dengan Pixel 3a. Ponsel-ponsel ini diterima dengan sangat baik berkat perpaduan pembaruan cepat, kamera kelas flagship, dan harga yang sangat baik. Ini menunjukkan bahwa Google lebih fokus pada lini Pixel yang lebih premium.
Peralihan ke Android Go untuk Segmen Entry-Level
Selain itu, Google mengalihkan perhatiannya ke Android Go untuk segmen entry-level. Android Go dirancang untuk perangkat dengan spesifikasi rendah, membuatnya lebih sesuai untuk pengguna di pasar berkembang.
Tidak Adanya Pengumuman Resmi tentang Masa Depan Android One
Google tidak pernah membuat pengumuman resmi tentang penghentian atau perubahan arah program Android One. Website Android One masih aktif tetapi tidak diperbarui sejak 2020, menampilkan perangkat lama seperti Nokia 5.3. Ketidakjelasan ini menciptakan ketidakpastian bagi produsen yang masih mempertimbangkan Android One untuk produk mereka.
Warisan Android One dalam Ekosistem Android Modern
Android One mungkin tidak lagi menjadi program aktif, tetapi warisannya masih terasa dalam ekosistem Android modern. Meskipun proyek ini telah dihentikan, banyak ide yang lahir dari program ini kemudian diadopsi oleh produsen ponsel lain. Pembaruan cepat dan sistem yang ringan kini menjadi standar yang diharapkan pengguna.
Pengaruh pada Kebijakan Pembaruan Sistem
Android One membawa perubahan signifikan dalam kebijakan pembaruan sistem. Dengan menjanjikan pembaruan langsung dari Google, program ini mendorong produsen lain untuk meningkatkan kecepatan pembaruan pada perangkat mereka. Hal ini membuat pengguna semakin mengharapkan pembaruan sistem yang cepat dan tepat waktu.
Adopsi Antarmuka yang Lebih Bersih oleh Produsen
Banyak produsen kini mengadopsi antarmuka yang lebih bersih, mirip dengan yang ditawarkan Android One. Pengalaman pengguna yang minimalis dan bebas bloatware menjadi semakin populer di kalangan pengguna. Produsen seperti Samsung dan Google sendiri telah mengintegrasikan elemen-elemen ini ke dalam antarmuka mereka, seperti yang terlihat pada perbandingan antara Samsung One UI dan Pixel.
Nilai Android One yang Masih Dihargai oleh Pengguna
Nilai-nilai yang diperjuangkan Android One masih dihargai oleh komunitas pengguna. Beberapa contoh termasuk:
- Masih adanya komunitas pengguna yang menghargai nilai-nilai Android One.
- Smartphone bekas Android One seperti Nokia 7 Plus dan Mi A1 masih memiliki permintaan di pasar sekunder.
- Banyak pengguna yang menginstal ROM kustom berbasis AOSP untuk mendapatkan pengalaman mirip Android One.
Ini menunjukkan bahwa warisan Android One tetap relevan dan dicari oleh segmen pengguna tertentu.
Kesimpulan: Pelajaran dari Kegagalan Android One
Penghentian Android One oleh Google menunjukkan tantangan dalam menyeimbangkan kualitas dan fleksibilitas di pasar smartphone. Meskipun program ini berakhir, Android One tetap menjadi contoh penting tentang bagaimana visi idealis dapat mempengaruhi industri.
Beberapa alasan utama kegagalan Android One termasuk ketidakmampuan menyeimbangkan kontrol kualitas dengan fleksibilitas yang dibutuhkan produsen, serta kurangnya diferensiasi produk di industri smartphone yang semakin komoditas.
Namun, Android One berhasil mengubah ekspektasi pengguna tentang pembaruan software dan pengalaman Android yang bersih. Banyak nilai Android One telah diserap ke dalam ekosistem Android yang lebih luas, dan produsen kini mencari keseimbangan antara UI kustom yang kaya fitur dengan pengalaman pengguna yang bersih dan efisien.
Penghentian Android One juga membuka peluang bagi Google untuk fokus pada lini Pixel yang lebih premium dan Android Go untuk segmen entry-level. Pengguna yang menginginkan pengalaman Android murni kini memiliki opsi seperti lini Pixel atau ROM kustom berbasis AOSP.
Warisan Android One tetap hidup dalam standar industri yang lebih tinggi untuk pembaruan dan pengalaman pengguna, menunjukkan bahwa keseimbangan antara standarisasi dan inovasi sangat penting untuk perkembangan pasar smartphone.
➡️ Baca Juga: Krisis Ekonomi: Strategi Pemulihan Pasca-Pandemi
➡️ Baca Juga: Mengenal Peran Pemerintah dalam Atasi Tantangan Teknologi




